Sepiku, tak benar benar sepi
Perihku, pun tak benar benar perih
Saat diri terkunci pada berdiam diri
Monolog hati mengilhami
Ini bukan monolog yang sesungguhnya
Melainkan dialog tanpa kata
Ajaib memang,
Kesedihan membawa keajaiban
Keajaiban yang menuntun seseorang percaya akan sesuatu
Sesuatu yang diyakini dari dasar hati
Tak pernah meninggalkan kita sendiri
Sesuatu yang diyakini sebagai Sang Pencipta
Saat diri demikian tersungkur oleh janji janji
Bukan salah sang pemberi janji
Bukan!
Namun salahkan diri sendiri
berani menggantungkan diri
pada kata kata tanpa arti
Mengapa bukan firmanNya yang sudah terbukti asli yang dijadikan sandaran hati?
Ya,
Begitulah manusia merasa begitu yakin dengan sesamanya
Hati,
Diri,
Sepi,
Apalagi yang dapat dilakukan sekarang
Berenang dalam ingatan yang jelas terbayang
Kebersamaan tanpa ikatan halal yang sudah melayang
Mimpi mimpi yang hilang
Berganti dengan isak tangis dalam diam
Sekarang,
Tak ada lagi manusia yang menghentikan langkah hijrahmu
Perbaiki semampumu
Khusnudzon pada Penciptamu
Tengadahkan kedua tanganmu
Menangislah sesuka hatimu
Ada Dia
Ada Dia
Dia yang senantiasa tak pernah menolak sujudmu
Dia yang senantiasa mendengarkan keluh kesahmu
Dia yang senantiasa menentramkan hatimu
Perbaiki diri
Jaga hati
Untuk cinta yang hakiki
Dia yang Maha Baik Hati
Akan menghadirkan pangeran itu diwaktu yang tepat
Pangeran yang akan menjabat tangan ayahmu dan berucap qabiltu
Bismillah
Percayalah
Apa yang tersisa dari dirimu
Jaga semampumu
Dengan penjagaan terbaik sebisamu
Yakini
Kamu bisa menjadi baik
Dan dirimu
Suatu saat akan menggetarkan sang penawar sepi
untuk segera memboyongmu dalam ikatan suci
Yakini
Dalam hati
Yakini
Dalam diri
Dia tidak jahat
Dia hanya ingin kamu bertaubat
Dia, Allah